Sabtu, 18 Juni 2016

contoh kasus dan pemilihan teknik dalam terapi




1.      Bagaimana cara terapis untuk menjelaskan tujuan dari terapi perspektif intergatif sehingga dapat membantu konseli mengembangkan intergitasnya pada level tertinggi, ditandai adanya aktualisasi diri dari integritas yang memuaskan (jelaskan dengan contoh)?
Tujuan konseling dalam perspektif integratif yaitu membantu konseli mengembangkan integritasnya pada level tertinggi, yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan integritas yang memuaskan.
Untuk mencapai tujuan yang ideal ini maka konseli perlu dibantu untuk menyadari sepenuhnya situasi masalahnya, mengajarkan konseli secara sadar dan intensif memiliki latihan pengendalian di atas masalah tingkah laku. Terapi ini berfokus secara langsung pada tingkah laku, tujuan, masalah dan sebagainya.
Seorang yang selalu berpindah kantor atau pekerjaan karena tidak nyaman dengan dilingkungan kerja berkonsultasi kepada konsuli lalu konsuli merekayasa mindset orang tersebut supaya dia dapat nyaman dan dapat menerima karakter-karakter setiap orang yang ada dilingkungan kerjanya.

2.      Bagaimana cara terapis mengetahui metode apa yang tepat untuk memilih teknik yang akan dilakukan dalam melakukan terapi bermain ? ( jelaskan dengan contoh kasus)
Tujuan terapi bermain adalah untuk membantu klien mencegah atau menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial, mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal melalui eksplorasi atau ekspresi diri. Terapi permainan dilihat dari berapa umur pasien misalnya, alya adalah anak berumur 6 tahun, dia duduk di taman kanan-kanak. Saat di taman kanak-kanak alya cendrung pendiam dan murung juga tidak aktif seperti teman-teman lainnya yang ada dikelas bahkan alya tidak mempunyai teman  dan selalu menangis saat akan tiba waktunya untuk sekolah. Lalu orang tua alya membawa alya untuk terapis dan terapis memberi dia teknik dramatika play role play untuk anak preschool dengan memberikan satu set boneka lalu alya disuruh bermain dengan boneka tersebut  dengan memberikan peran setiap boneka untuk memainkan kehidupan nyata dan terapis memperhatikan apa yang alya lakukan untuk mencari tahu masalah sebenarnya yang terjadi.

3.      Bagaimana cara efektif yang harus dilakukan terapis dalam metode teknik terapi keluarga? ( jelaskan dengan contoh kasus)
Tetapi keluarga cenderung untuk melihat masalah individu dalam konteks lingkungan khususnya keluarga dan menitik beratkan pada proses interpersonal. Teori terapi keluarga berdasarkan kenyataan bahwa manusia bukan mahluk yang terisolir, dia adalah anggota dari kelompok sosial yang terlibat aksi dan reaksi. Masalah yang terjadi pada individu berkaitan dengan interaksi yang terjadi antara individu dan keluaraganya. Pada prinsipnya terapi keluarga akan mengekslpoitasi interaksi pasien dalam konteks kehidupannya yang bermakna yaitu dengan mengamati hubungan pasien dengan keluarganya.
Awalnya terapis melihat apa yang menjadi masalah dalam suatu keluarga misalnya keluarga ali cenderung untuk tidak terbuka dalam hal apapun bahkan seringkali menyalah artikan maksud perkataan dalam anggota keluarga untuk itu terapist dari kelompok ikomunikasi dan kognitif menaruh perhatian untuk menolong keluarga dan menjelaskan arti komunikasi yang terjadi diantara mereka. Terapist menyuruh anggota keluarga meneliti apa yang dimaksud oleh anggota keluarga yang lain saat menyatakan sesuatu.
Terapist juga memperhatikan punktuasi dari proses komunikasi yang terjadi pada keluarga dengan tujuan memperjelas kesalah pengertian, juga diperhatikan bahwa non verbal yang digunakan.



Kamis, 09 Juni 2016

metode-metode psikoterapi



1.      Jelaskan metode transaksional analisis dalam penerapan teorinya??

Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap  tiga kedudukan ego yang terpisah : Orang tua, Orang dewasa, dan anak. Sifat kontruktual proses terapeutik AT cenderung mempersamakan kekuasan terapis dan  klien. Adalah menjadi tanggung jawab klien untuk menetukan apa yang akan diubahnya. AT berasumsi bahwa orang – orang bisa belajar mempercayai dirinya sendiri. Berpikir dan memutuskan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasan – perasannya.
teknik Analisis Transaksional cocok terutama untuk situasi-situasi kelompok. AT pada mulanya direncanakan sebagai suatu bentuk treatment kelompok,dan prosedur-prosedur terapeutiknya memberikan hasil dalam setting kelompok. dalam setting kelompok, orang-orang bisa mengamati perubahan orang lain, yang memberikan kepada mereka model-model bagi peningkatan kebebasan memilih. Mereka menjadi paham atas struktur dan fungsi kepribadian mereka sendiri serta belajar bagaimana bertransaksi dengan orang lain. Transaksi-transaksi dalam kelompok memungkinkan para anggota mampu meningkatkan kesadaran, baiktentang dirinya sendiri maupun tentang orang lain. Dan karenanya bisa befokus pada perubahan-perubahan dan putusan-putusan ulang yang akan mereka buat dalam kehidupan mereka. 
Harris (1967) sepakat bahwa “treatment atas individu-individu dalam kelompok adalah metode analisis-analisis transaksional”. Ia memandang fase permulaan kelompok AT sebagai suatu proses megajar dan belajar serta meletakkan kepentingannya pada peran didaktik terapis kelompok. Harris membahas beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari pendekatan kelompok. Diantaranya ialah : (1) berbagai cara ego orang tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati, (2) karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individudalam kelompok bisa dialami, (3) orang-orang bisa dialami dalam suatu lingkungan yang alamiah, yang dtandai oleh keterlibatan dengan orang-orang lain, (4) konfrontasi permainan-permainan yang timbale balik bisa muncul secara wajar, (5) para klien bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatment kelompok. Harris mengemukakan keuntungan yang terakhir : “Dengan membaik saya maksudkan mencapai tujuan-tujuan yang yang dinyatakan dalam kontrak jam pertama. Salah satu diantaranya adalah peredaran gejala dan yang lainnya adalah belajar menggunakan ego orang tua, ego orang dewasa, dan ego anak-anak secara cermat dan efektif.

2.      Jelaskan perbedaan terapi individual dan kelompok?
Terapi individual
Terapi individual adalah penanganan klien gangguan jiwa dengan pendekatan hubungan individual antara seorang terapis dengan seorang klien. Suatu hubungan yang terstruktur yang terjalin antara perawat dan klien untuk mengubah perilaku klien. Hubungan yang dijalin adalah hubungan yang disengaja dengan tujuan terapi, dilakukan dengan tahapan sistematis (terstruktur) sehingga melalui hubungan ini terjadi perubahan tingkah laku klien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan di awal hubungan.
Hubungan terstruktur dalam terapi individual bertujuan agar klien mampu menyelesaikan konflik yang dialaminya. Selain itu klien juga diharapkan mampu meredakan penderitaan (distress) emosional, serta mengembangkan cara yang sesuai dalam memenuhi kebutuhan dasarnya
Terapi kelompok
Terapi Kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasienbersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih. Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi klien dengan gangguan interpersonal.
Keuntungan yang diperoleh individu melalui terapi aktivitas kelompok ini adalah dukungan (support), pendidikan, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan hubungan interpersonal dan meningkatkan uji realitas sehingga terapi aktivitas kelompok ini dapat dilakukan pada karakteristik gangguan seperti : gangguan konsep diri, harga diri rendah, perubahan persepsi sensori halusinasi, klien dengan perilaku kekerasan atau agresif dan amuk serta menarik diri/isolasi sosial. Selain itu, dapat mengobati klien dalam jumlah banyak, dapat mendiskusikan masalah-masalah secara kelompok, menggali gaya berkomunikasi, belajar bermacam cara dalam memecahkan masalah, dan belajar peran di dalam kelompok.

3.      Jelaskan metode terapi rasional emotif dalam penerapannya ?

Terapi rasional emotif adalah sistem psikoterapi yang mengajari individu bagaimana sistem keyakinannya menentukan yang dirasakan dan dilakukannya pada berbagai peristiwa dalam kehidupan. Penekanan terapi ini pada cara berpikir mempengaruhi perasaan, sehingga termasuk dalam terapi kognitif. Terapi ini diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis, seorang psikolog klinis. Awalnya terapi ini bernama terapi rasional, namun karena banyak memperoleh anggapan keliru bahwa mengeksplorasi emosi-emosi klien tidak begitu penting bagi Ellis. Sehingga pada tahun 1961 dia mengubah namanya menjadi terapi rasional emotif. Ellis menggabungkan terapi humanistik, filosofis, dan behavioral menjadi terapi rasional emotif (TRE). TRE banyak kesamaan dengan dengan terapi yang berorientasi pada kognisi, perilaku dan perbuatan dimana TRE menekankan pada berpikir, memikirkan, mengambil keputusan, menganalisis dan berbuat. TRE didasarkan pada asumsi bahwa kognisi, emosi, dan perilaku berinteraksi secara signifikan dan memiliki hubungan sebab akibat timbal balik.
Ellis mengatakan tujuan utama terapi ini adalah untuk membantu individu-individu menanggulangi problem-problem perilaku dan emosi mereka untuk membawa mereka kekehidupan yang lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih terpenuhi. Secara sederhana dan umum tujuan terapi ini adalah membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan yang logis serta realisitik sebagai penggantinya. Secara terperinci terapi ini bertujuan untuk;
·         Memperbaiki dan mengubah segala perilaku, sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan dirinya.
·         Menghilangkan gangguan emosional yang merusak seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.
·         Untuk membangun Self Interest (minat), Self Direction (pengendalian/ pengarahan diri), Tolerance (toleransi), Acceptance of Uncertainty (kesediaan menerima ketidakpastian), Fleksibel, Commitment (komitmen terhadap sesuatu), Scientific Thinking (berpikir logis), Risk Taking (keberanian mengambil resiko), dan Self Acceptance (penerimaan diri) klien.

4.      Jelaskan metode terapi perilaku dalam penerapannya?

Terapi perilaku adalah terapi psikologis singkat bertarget yang lebih menangani gambaran terkini berbagai gangguan ketimbangan, mengurusi perkembangan sebelumnya. Terapi ini didasarkan pada teori pembelajaran perilaku, yang selanjutnya didasarkan pada classical dan operant conditioning. Penilaian objektif berkelanjutan mengenai kemajuan pasien dibuat. 
·         Meningkatkan atau mempertahankan perilaku 
Perilaku mungkin akan meningkat baik frekuensi, kompleksitas/lamanya dengan pemberian reinforcementReinforcement adalah suatu proses, dimana kejadian atau kondisi lingkungan yang menyertai perilaku dapat mempengaruhi perilaku yang timbul kemudian.
·         Positif reinforcement
Meningkatnya frekuensi sebuah respon, dan respon tersebut diikuti oleh stimulus yg menyenangkan. Contohnya perilaku mengucapkan salam yang disambut dengan senyuman oleh orang yg dituju.
·         Negative reinforcement
Meningkatnya frekuensi suatu respon, karena respon tersebut memindahkan beberapa stimulus yang negatif atau menyakitkan dan tidak menyenangkan. Stimulus yang tidak menyenangkan (konflik) akan meningkatkan respons menyibukkan diri.
·         Menurunnya perilaku 
Upaya meningkatkan perilaku dilakukan dengan pemberian punishment dan extinction
·         Punishment 
Konsekuensi-konsekuensi yang menghasilkan penekanan/penurunan frekuensi tingkah laku yang akan muncul :
ü   Positive punishment : Menghadirkan stimulus bertentangan yang mengikuti suatu perilaku dengan tujuan menurunkan perilaku tersebut.
ü   Negative punishment : Kejadian yang menggantikan/menurunkan suatu perilaku, ada 2 bentuk yaitu Respon Cost adalah kerugian yg mengikuti perilaku dan Time out adalah prosedur punishment dalam periode waktu tertentu dimana selama waktu tersebut pemberian reinforcement tidak sesuai.
·         Extinction
Prosedur yang biasa digunakan oleh pemberi reinforcement untuk menghilangkan perilaku. Extinction berjalan lebih lambat dari pada reinforcement
·         Desensitisasi Sistemik 
Desensitisasi sistemik yang dikembangkan oleh Joseph Wolpe, didasarkn pada prinsip perilaku counterconditioning, disini seseorang menghadapi ansietas maladaptive yang dicetuskan oleh situasi atau suatu objek dengan mendekati situasi yang ditakuti secara bertahap dan didalam keadaan psikofisiologis yang menghambat ansietas. Didalam desensitisasi sistemik, pasien mendapatkan keadaan relaksasi seutuhnya dan kemudian dipajankan pada stimulus yang mencetuskan respon ansietas. Reaksi negative ansietas dihambat oleh keadaan relaksasi, suatu proses yang disebut inhibisi resiprokal. Bukannya menggunakan situasi atau objek sebenarnya yang mencetuskan rasa takut, pasien dan terapis menyiapkan daftar bertingkat suasana mencetuskan ansietas dan terkait dengan rasa takut pasien. Keadaan relaksasi yang dipelajari dan situasi pencetus ansietas secara sistematis dipasangkan didalam terapi. Dengan demikian, desensitisasi sitematik terdiri atas tiga langkah: pelatihan relaksasi, pembangunan hirarki dan desensitisasi stimulus.
·         Pelatihan Relaksasi
Relaksasi menghasilkan efek fisiologis yang berlawanan dengan efek fisiologis ansietas: denyut jantung lambat, meningkatnya aliran darah keperifer, dan sensibilitas neuromuskular. Beberapa diantaranya, seperti yoga dan zen, telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Sebagian besar metode menggunakan relaksasi progresi yang dikembangkan oleh psikiater Edmund Jacobson. Pasien merelaksasi kelompok otot utama dalam rangkaian tetap, dimulai dari kelompok otot kecil kaki terus kearah kepala atau sebaliknya. Beberapa klinisi memakai hipnosis untuk mempermudah relaksasi atau menggunakan latihan dengan menggunakan kaset untuk memungkinkan pasien berlatih relaksasi sendiri.  Mental imagery merupakan metode relaksasi dengan pasien diinstruksikan untuk membayangkan dirinya disuatu tempat yang terkait dengan kenangan yang menyenangkan dan membuat santai. Bayangan tersebut memungkinkan pasien memasuki keadaan atau pengalaman relaksasi, seperti yang dinamakan oleh Herbert Benson, respon relaksasi.
Perubahan fisiologis yang berlangsung saat relaksasi adalah kebalikan dari perubahan yang dicetuskan oleh respon stress adrenergic yang merupakan bagian dari banyak emosi. Tegangan otot, frekuensi pernapasan, denyut jantung, tekanan darah, dan konduktansi kulit menurun. Suhu jari dan aliran darah ke jari biasanya meningkat. Relaksasi meningkatkan variabilitas denyut jantung respirasi, suatu indeks tonus parasimpatis.
·         Pembangunan Hirarki
Ketika membangun hirarki, klinisi mennetukan semua keadaan yang mencetuskan ansietas, kemudian pasien menciptakan daftar hirarki 10 hingga 12 situasi dalam urutan meningkatnya ansietas. Contohnya, hirarki akrofobik dapat dimulai dengan pasien membayangkan berdiri didekat jendela dilantai kedua dan diakhiri dengan berada di atap gedung 20 tingkat, bersandar dipembatas dan melihat ke bawah.
·         Desensitisasi Stimulus
Pada langkah terakhir, yang disebut desensitisasi, pasien melanjutkan daftar secara sistematik dari situasi yang kurang mencetuskan ansietas hingga yang paling mencetuskan ansietas saat berada dalam keadaan relaksasi dalam. Kecepatan perkembangan pasien melalui daftar tersebut ditentukan oleh respons mereka terhadap stimulus. Ketika pasien dapat membayangkan dengan jelas situasi pada hirarki yang paling mencetuskan ansietas dengan tenang, mereka akan mengalami sedikit ansietas di dalam situasi kehidupan sebenarnya yang sama.
·         Pemajanan Bertingkat Terapeutik.
Pemajanan bertingkat terapeutik serupa dengan desensitisasi sistematik kecuali bahwa pelatihan relaksasi tidak dilibatkan dan terapi biasa dilakukan didalam konteks kehidupan sebenarnya. Hal ini berarti bahwa individu tersebut harus berkontak dengan stimulus peringatan untuk pertama kali belajar bahwa tidak ada akibat berbahaya yang akan terjadi. Pajanan ditingkatkan sesuai hirarki. Contohnya, pasien yang takut pada kucing, dapat meningkat dari melihat gambar kucing hingga menggendong kucing.
·         Flooding 
Flooding serupa dengan pemajanan bertingkat yaitu bahwa flooding memajankan pasien pada objek yang ditakuti in vivo; meski demikian, tidak ada hirarki. Flooding didasarkan pada dasar pemikiran bahwa melarikan diri dari pengalaman yang mencetuskan ansietas mendorong ansietas melalui pembelajaran. Dengan demikian, klinisi dapat mengakhiri ansietas dan mencegah perilaku menghindar yang dipelajari dengan tidak memungkinkan pasien lari dari situasi tersebut. Keberhasilan prosedur ini bergantung pada pertahanan pasien didalam situasi yang menimbulkan takut sampai mereka menjadi tenang dan merasakan sensasi penguasaan. Menarik diri secara dini dari situasi atau secara dini mengakhiri situasi yang dibayangkan adalah sebanding dengan pelarian diri, yang kemungkinan mendorong ansietas yang dipelajari serta perilaku menghindar dan menghasilkan efek berlawanan yang diinginkan. Di dalam suatu varian, yang disebut imaginal flooding, objek atau situasi yang ditakuti dihadapkan hanya didalam imajinasi bukannnya dikehiupan nyata.
·         Assertivenes Training 
Untuk menjadi asertif seseorang perlu memiliki kepercayaan diri di dalam penilaiannya dan harga diri yang cukup untuk mengekspresikan pendapat mereka. Pelatihan dan keterampilan social dan keasertifan mengajari seseorang cara merespons dengan sesuai dilingkungan social, mengekspresikan pendapat mereka  dengan cara yang dapat diterima, dan memperoleh tujuan mereka. Berbagai teknik, termasuk role model, desensitisasi, dan dorongan positif, digunakan untuk meningkatkan keasertifan.
·         Terapi Aversi 
Ketika stimulus berbahaya (hukuman) muncul segera setelah suatu respons perilaku tertentu, secara teoritis, respon ini akhirnya dihambat dan diakhiri. Banyak stimulus berbahaya yang digunakan: kejutan listrik, zat yang mencetuskan muntah, hukuman fisik, dan ketidaksetujuan sosial. Stimulus negatif dipasangkan dengan perilaku, yang kemudian disupresi. Perilaku tidak diinginkan dapat menghilang setelah rangkaian tersebut. Terapi aversi telah digunakan untuk penyalahgunaan alcohol, parafilia, dan perilaku lain dengan cirri impulsif dan kompulsif.
·         Desensitisasi dan Pemrosesan Ulang Gerakan Mata (Eye Movement Desensitization and Reprocessing; EMDR) 
Gerakan mata sakadik adalah osilasi cepat mata yang terjadi ketika seseorang mengikuti objek yang bergerak maju-mundur di dalam garis penglihatan. Jika gerakan ini dicetuskan ketika seseorang sedang membayangkan atau berpikir mengenai peristiwa yang ditimbulkan ansietas, beberapa studi menunjukkan bahwa pikiran atau bayangan positif dapat dicetuskan dan menyebabkan penurunan ansietas. EMDR telah digunakan pada gangguan stress, pascatrauma dan fobia.
·         Dialectical Behavior Therapy (DBT) 
DBT telah berhasil digunakan pada pasien dengan gangguan kepribadian ambang dan perilaku parasuicidal. Terapi ini bersifat selektif, dan mengambil metode dari terapi suportif, kognitif dan perilaku. Fungsi DBT adalah :
ü  Meningkatkan dan memperluas daftar pola perilaku terlatih pasien
ü  Meningkatkan matovasi pasien untuk berubah dengan mengurangi dorongan pada perilaku maladaptif, termasuk disfungsi (kognisi dan emosi)
ü  Meyakinkan bahwa pola perilaku baru dikembangkan dari lingkungan terapeutik ke lingkungan alami
ü  Membuat struktur lingkungan sedemikian rupa sehinggaperilaku efektif bukannya perilaku disfungsi yang didorong
ü  Meningkatkan motivasi dan kemampuan terapis sehingga diperoleh terapi efektif.