1.
Jelaskan
metode transaksional analisis dalam penerapan teorinya??
Teori
ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego
yang terpisah : Orang tua, Orang dewasa, dan anak. Sifat kontruktual proses
terapeutik AT cenderung mempersamakan kekuasan terapis dan klien. Adalah
menjadi tanggung jawab klien untuk menetukan apa yang akan diubahnya. AT
berasumsi bahwa orang – orang bisa belajar mempercayai dirinya sendiri.
Berpikir dan memutuskan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasan –
perasannya.
teknik
Analisis Transaksional cocok terutama untuk situasi-situasi kelompok. AT pada
mulanya direncanakan sebagai suatu bentuk treatment kelompok,dan prosedur-prosedur terapeutiknya memberikan hasil
dalam setting kelompok.
dalam setting kelompok, orang-orang bisa mengamati perubahan orang lain, yang
memberikan kepada mereka model-model bagi peningkatan kebebasan memilih. Mereka
menjadi paham atas struktur dan fungsi kepribadian mereka sendiri serta belajar
bagaimana bertransaksi dengan orang lain. Transaksi-transaksi dalam kelompok
memungkinkan para anggota mampu meningkatkan kesadaran, baiktentang dirinya
sendiri maupun tentang orang lain. Dan karenanya bisa befokus pada
perubahan-perubahan dan putusan-putusan ulang yang akan mereka buat dalam
kehidupan mereka.
Harris
(1967) sepakat bahwa “treatment atas individu-individu dalam kelompok adalah
metode analisis-analisis transaksional”. Ia memandang fase permulaan kelompok
AT sebagai suatu proses megajar dan belajar serta meletakkan kepentingannya
pada peran didaktik terapis kelompok. Harris membahas beberapa keuntungan yang
bisa diperoleh dari pendekatan kelompok. Diantaranya ialah : (1) berbagai cara
ego orang tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati, (2)
karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individudalam kelompok
bisa dialami, (3) orang-orang bisa dialami dalam suatu lingkungan yang alamiah,
yang dtandai oleh keterlibatan dengan orang-orang lain, (4) konfrontasi
permainan-permainan yang timbale balik bisa muncul secara wajar, (5) para klien
bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatment kelompok. Harris mengemukakan
keuntungan yang terakhir : “Dengan membaik saya maksudkan mencapai
tujuan-tujuan yang yang dinyatakan dalam kontrak jam pertama. Salah satu
diantaranya adalah peredaran gejala dan yang lainnya adalah belajar menggunakan
ego orang tua, ego orang dewasa, dan ego anak-anak secara cermat dan efektif.
2.
Jelaskan
perbedaan terapi individual dan kelompok?
Terapi
individual
Terapi individual adalah penanganan
klien gangguan jiwa dengan pendekatan hubungan individual antara seorang terapis
dengan seorang klien. Suatu hubungan yang terstruktur yang terjalin antara
perawat dan klien untuk mengubah perilaku klien. Hubungan yang dijalin adalah
hubungan yang disengaja dengan tujuan terapi, dilakukan dengan tahapan
sistematis (terstruktur) sehingga melalui hubungan ini terjadi perubahan
tingkah laku klien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan di awal hubungan.
Hubungan terstruktur dalam terapi
individual bertujuan agar klien mampu menyelesaikan konflik yang dialaminya.
Selain itu klien juga diharapkan mampu meredakan penderitaan (distress)
emosional, serta mengembangkan cara yang sesuai dalam memenuhi kebutuhan
dasarnya
Terapi kelompok
Terapi Kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan
sekelompok pasienbersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang
dipimpin atau diarahkan oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang
telah terlatih. Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara
kelompok untuk memberikan stimulasi bagi klien dengan gangguan interpersonal.
Keuntungan yang diperoleh individu melalui terapi aktivitas
kelompok ini adalah dukungan (support), pendidikan, meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan hubungan interpersonal dan
meningkatkan uji realitas sehingga terapi aktivitas kelompok ini dapat
dilakukan pada karakteristik gangguan seperti : gangguan konsep diri, harga
diri rendah, perubahan persepsi sensori halusinasi, klien dengan perilaku
kekerasan atau agresif dan amuk serta menarik diri/isolasi sosial. Selain itu,
dapat mengobati klien dalam jumlah banyak, dapat mendiskusikan masalah-masalah
secara kelompok, menggali gaya berkomunikasi, belajar bermacam cara dalam
memecahkan masalah, dan belajar peran di dalam kelompok.
3.
Jelaskan
metode terapi rasional emotif dalam penerapannya
?
Terapi rasional emotif adalah sistem psikoterapi yang
mengajari individu bagaimana sistem keyakinannya menentukan yang dirasakan dan
dilakukannya pada berbagai peristiwa dalam kehidupan. Penekanan terapi ini pada
cara berpikir mempengaruhi perasaan, sehingga termasuk dalam terapi kognitif.
Terapi ini diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis, seorang psikolog
klinis. Awalnya terapi ini bernama terapi rasional, namun karena banyak
memperoleh anggapan keliru bahwa mengeksplorasi emosi-emosi klien tidak begitu
penting bagi Ellis. Sehingga pada tahun 1961 dia mengubah namanya menjadi
terapi rasional emotif. Ellis menggabungkan terapi humanistik, filosofis, dan
behavioral menjadi terapi rasional emotif (TRE). TRE banyak kesamaan dengan
dengan terapi yang berorientasi pada kognisi, perilaku dan perbuatan dimana TRE
menekankan pada berpikir, memikirkan, mengambil keputusan, menganalisis dan
berbuat. TRE didasarkan pada asumsi bahwa kognisi, emosi, dan perilaku
berinteraksi secara signifikan dan memiliki hubungan sebab akibat timbal balik.
Ellis mengatakan tujuan utama terapi
ini adalah untuk membantu individu-individu menanggulangi problem-problem perilaku
dan emosi mereka untuk membawa mereka kekehidupan yang lebih bahagia, lebih
sehat, dan lebih terpenuhi. Secara sederhana dan umum tujuan terapi ini adalah
membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan
untuk belajar gagasan-gagasan yang logis serta realisitik sebagai penggantinya.
Secara terperinci terapi ini bertujuan untuk;
·
Memperbaiki dan mengubah segala
perilaku, sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan
yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat
mengembangkan dirinya.
·
Menghilangkan gangguan emosional
yang merusak seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas,
merasa was-was, rasa marah.
·
Untuk membangun Self Interest
(minat), Self Direction (pengendalian/ pengarahan diri), Tolerance (toleransi),
Acceptance of Uncertainty (kesediaan menerima ketidakpastian), Fleksibel,
Commitment (komitmen terhadap sesuatu), Scientific Thinking (berpikir logis),
Risk Taking (keberanian mengambil resiko), dan Self Acceptance (penerimaan
diri) klien.
4.
Jelaskan
metode terapi perilaku dalam penerapannya?
Terapi perilaku
adalah terapi psikologis singkat bertarget yang lebih menangani gambaran
terkini berbagai gangguan ketimbangan, mengurusi perkembangan sebelumnya.
Terapi ini didasarkan pada teori pembelajaran perilaku, yang selanjutnya
didasarkan pada classical dan operant conditioning. Penilaian objektif berkelanjutan
mengenai kemajuan pasien dibuat.
·
Meningkatkan
atau mempertahankan perilaku
Perilaku mungkin akan meningkat baik
frekuensi, kompleksitas/lamanya dengan pemberian reinforcement. Reinforcement adalah
suatu proses, dimana kejadian atau kondisi lingkungan yang menyertai perilaku
dapat mempengaruhi perilaku yang timbul kemudian.
·
Positif reinforcement
Meningkatnya frekuensi sebuah
respon, dan respon tersebut diikuti oleh stimulus yg menyenangkan. Contohnya
perilaku mengucapkan salam yang disambut dengan senyuman oleh orang yg dituju.
·
Negative reinforcement
Meningkatnya frekuensi suatu respon,
karena respon tersebut memindahkan beberapa stimulus yang negatif atau
menyakitkan dan tidak menyenangkan. Stimulus yang tidak menyenangkan (konflik)
akan meningkatkan respons menyibukkan diri.
·
Menurunnya
perilaku
Upaya meningkatkan perilaku
dilakukan dengan pemberian punishment dan extinction
·
Punishment
Konsekuensi-konsekuensi yang menghasilkan
penekanan/penurunan frekuensi tingkah laku yang akan muncul :
ü Positive punishment :
Menghadirkan stimulus bertentangan yang mengikuti suatu perilaku dengan tujuan
menurunkan perilaku tersebut.
ü Negative punishment :
Kejadian yang menggantikan/menurunkan suatu perilaku, ada 2 bentuk yaitu Respon Cost adalah kerugian yg mengikuti perilaku
dan Time out adalah prosedur punishment dalam periode waktu tertentu dimana
selama waktu tersebut pemberian reinforcement tidak
sesuai.
·
Extinction
Prosedur yang biasa digunakan oleh
pemberi reinforcement untuk menghilangkan perilaku. Extinction berjalan lebih lambat dari pada reinforcement
·
Desensitisasi
Sistemik
Desensitisasi sistemik yang
dikembangkan oleh Joseph Wolpe, didasarkn pada prinsip perilaku
counterconditioning, disini seseorang menghadapi ansietas maladaptive yang
dicetuskan oleh situasi atau suatu objek dengan mendekati situasi yang ditakuti
secara bertahap dan didalam keadaan psikofisiologis yang menghambat ansietas.
Didalam desensitisasi sistemik, pasien mendapatkan keadaan relaksasi seutuhnya
dan kemudian dipajankan pada stimulus yang mencetuskan respon ansietas. Reaksi
negative ansietas dihambat oleh keadaan relaksasi, suatu proses yang disebut
inhibisi resiprokal. Bukannya menggunakan situasi atau objek sebenarnya yang
mencetuskan rasa takut, pasien dan terapis menyiapkan daftar bertingkat suasana
mencetuskan ansietas dan terkait dengan rasa takut pasien. Keadaan relaksasi
yang dipelajari dan situasi pencetus ansietas secara sistematis dipasangkan
didalam terapi. Dengan demikian, desensitisasi sitematik terdiri atas tiga langkah:
pelatihan relaksasi, pembangunan hirarki dan desensitisasi stimulus.
·
Pelatihan
Relaksasi
Relaksasi menghasilkan efek
fisiologis yang berlawanan dengan efek fisiologis ansietas: denyut jantung
lambat, meningkatnya aliran darah keperifer, dan sensibilitas neuromuskular.
Beberapa diantaranya, seperti yoga dan zen, telah dikenal sejak berabad-abad
yang lalu. Sebagian besar metode menggunakan relaksasi progresi yang
dikembangkan oleh psikiater Edmund Jacobson. Pasien merelaksasi kelompok otot
utama dalam rangkaian tetap, dimulai dari kelompok otot kecil kaki terus kearah
kepala atau sebaliknya. Beberapa klinisi memakai hipnosis untuk mempermudah
relaksasi atau menggunakan latihan dengan menggunakan kaset untuk memungkinkan
pasien berlatih relaksasi sendiri. Mental imagery merupakan metode
relaksasi dengan pasien diinstruksikan untuk membayangkan dirinya disuatu
tempat yang terkait dengan kenangan yang menyenangkan dan membuat santai.
Bayangan tersebut memungkinkan pasien memasuki keadaan atau pengalaman
relaksasi, seperti yang dinamakan oleh Herbert Benson, respon relaksasi.
Perubahan fisiologis yang
berlangsung saat relaksasi adalah kebalikan dari perubahan yang dicetuskan oleh
respon stress adrenergic yang merupakan bagian dari banyak emosi. Tegangan
otot, frekuensi pernapasan, denyut jantung, tekanan darah, dan konduktansi
kulit menurun. Suhu jari dan aliran darah ke jari biasanya meningkat. Relaksasi
meningkatkan variabilitas denyut jantung respirasi, suatu indeks tonus
parasimpatis.
·
Pembangunan
Hirarki
Ketika membangun hirarki, klinisi
mennetukan semua keadaan yang mencetuskan ansietas, kemudian pasien menciptakan
daftar hirarki 10 hingga 12 situasi dalam urutan meningkatnya ansietas.
Contohnya, hirarki akrofobik dapat dimulai dengan pasien membayangkan berdiri
didekat jendela dilantai kedua dan diakhiri dengan berada di atap gedung 20
tingkat, bersandar dipembatas dan melihat ke bawah.
·
Desensitisasi
Stimulus
Pada langkah terakhir, yang disebut
desensitisasi, pasien melanjutkan daftar secara sistematik dari situasi yang
kurang mencetuskan ansietas hingga yang paling mencetuskan ansietas saat berada
dalam keadaan relaksasi dalam. Kecepatan perkembangan pasien melalui daftar
tersebut ditentukan oleh respons mereka terhadap stimulus. Ketika pasien dapat
membayangkan dengan jelas situasi pada hirarki yang paling mencetuskan ansietas
dengan tenang, mereka akan mengalami sedikit ansietas di dalam situasi
kehidupan sebenarnya yang sama.
·
Pemajanan
Bertingkat Terapeutik.
Pemajanan bertingkat terapeutik
serupa dengan desensitisasi sistematik kecuali bahwa pelatihan relaksasi tidak
dilibatkan dan terapi biasa dilakukan didalam konteks kehidupan sebenarnya. Hal
ini berarti bahwa individu tersebut harus berkontak dengan stimulus peringatan
untuk pertama kali belajar bahwa tidak ada akibat berbahaya yang akan terjadi.
Pajanan ditingkatkan sesuai hirarki. Contohnya, pasien yang takut pada kucing,
dapat meningkat dari melihat gambar kucing hingga menggendong kucing.
·
Flooding
Flooding serupa dengan pemajanan
bertingkat yaitu bahwa flooding memajankan pasien pada objek yang ditakuti in
vivo; meski demikian, tidak ada hirarki. Flooding didasarkan pada dasar
pemikiran bahwa melarikan diri dari pengalaman yang mencetuskan ansietas
mendorong ansietas melalui pembelajaran. Dengan demikian, klinisi dapat
mengakhiri ansietas dan mencegah perilaku menghindar yang dipelajari dengan
tidak memungkinkan pasien lari dari situasi tersebut. Keberhasilan prosedur ini
bergantung pada pertahanan pasien didalam situasi yang menimbulkan takut sampai
mereka menjadi tenang dan merasakan sensasi penguasaan. Menarik diri secara
dini dari situasi atau secara dini mengakhiri situasi yang dibayangkan adalah
sebanding dengan pelarian diri, yang kemungkinan mendorong ansietas yang
dipelajari serta perilaku menghindar dan menghasilkan efek berlawanan yang
diinginkan. Di dalam suatu varian, yang disebut imaginal flooding, objek atau
situasi yang ditakuti dihadapkan hanya didalam imajinasi bukannnya dikehiupan
nyata.
·
Assertivenes Training
Untuk menjadi asertif seseorang
perlu memiliki kepercayaan diri di dalam penilaiannya dan harga diri yang cukup
untuk mengekspresikan pendapat mereka. Pelatihan dan keterampilan social dan
keasertifan mengajari seseorang cara merespons dengan sesuai dilingkungan
social, mengekspresikan pendapat mereka dengan cara yang dapat diterima,
dan memperoleh tujuan mereka. Berbagai teknik, termasuk role model,
desensitisasi, dan dorongan positif, digunakan untuk meningkatkan keasertifan.
·
Terapi Aversi
Ketika stimulus berbahaya (hukuman)
muncul segera setelah suatu respons perilaku tertentu, secara teoritis, respon
ini akhirnya dihambat dan diakhiri. Banyak stimulus berbahaya yang digunakan:
kejutan listrik, zat yang mencetuskan muntah, hukuman fisik, dan ketidaksetujuan
sosial. Stimulus negatif dipasangkan dengan perilaku, yang kemudian disupresi.
Perilaku tidak diinginkan dapat menghilang setelah rangkaian tersebut. Terapi
aversi telah digunakan untuk penyalahgunaan alcohol, parafilia, dan perilaku
lain dengan cirri impulsif dan kompulsif.
·
Desensitisasi
dan Pemrosesan Ulang Gerakan Mata (Eye
Movement Desensitization and Reprocessing; EMDR)
Gerakan mata sakadik adalah osilasi
cepat mata yang terjadi ketika seseorang mengikuti objek yang bergerak
maju-mundur di dalam garis penglihatan. Jika gerakan ini dicetuskan ketika
seseorang sedang membayangkan atau berpikir mengenai peristiwa yang ditimbulkan
ansietas, beberapa studi menunjukkan bahwa pikiran atau bayangan positif dapat
dicetuskan dan menyebabkan penurunan ansietas. EMDR telah digunakan pada
gangguan stress, pascatrauma dan fobia.
·
Dialectical Behavior Therapy (DBT)
DBT telah berhasil digunakan pada
pasien dengan gangguan kepribadian ambang dan perilaku parasuicidal. Terapi ini
bersifat selektif, dan mengambil metode dari terapi suportif, kognitif dan
perilaku. Fungsi DBT adalah :
ü Meningkatkan dan memperluas daftar pola perilaku terlatih
pasien
ü Meningkatkan matovasi pasien untuk berubah dengan mengurangi
dorongan pada perilaku maladaptif, termasuk disfungsi (kognisi dan emosi)
ü Meyakinkan bahwa pola perilaku baru dikembangkan dari
lingkungan terapeutik ke lingkungan alami
ü Membuat struktur lingkungan sedemikian rupa sehinggaperilaku
efektif bukannya perilaku disfungsi yang didorong
ü Meningkatkan motivasi dan kemampuan terapis sehingga
diperoleh terapi efektif.